(AWAS PANJANG TANPA AKHIR!)
dia begitu penuh dengan dirinya, tapi juga sangat kosong. seperti kantung keresek yang siap diterpa angin. dia menyadarinya. sekarang dia menunggu angin datang, berharap membawanya ke utara.
"aku mudah bosan." semua orang juga, pikirku.
"semuanya nanti pasti mati..." ya, memang.
"jadi untuk apa memori?"
"aww!" dia menarik tangannya cepat. cubitanku keras juga.
"kamu gak mati rasa, baguslah." aku berlalu, dasar gila! untuk apa memori, katanya? tentu saja! untuk hidup! aku hidup dari memori! sialan sekali dia.
dia begitu penuh cinta, tapi tidak merasakannya. dia penuh emosi, tapi tidak emosional, sedikit pun. dia peduli, tapi tidak mau melibatkan hati.
"kalau sudah main hati, susah kan."
"jangan coba dimainkan."
"dalam hidup jangan dilibatkan, nanti susah keluar."
aku diam. bosan maksudnya?
"kamu juga, jangan dekat-dekat. nanti repot."
siapa yang mau? huh.
jadi, tiap malam dia menelan obat lupa. merapal mantra, melupakan wajah-wajah hari ini, momen, detik, semuanya. karena itu, aku harus datang tiap hari.
"kamu lagi."
"ingat?"
"setiap hari, kan?"
"bagaimana kamu mengingat aku? bukannya kamu merapal mantra tiap malam?" mengejek.
"seperti pagi, tidak aku ingat tapi kamu selalu datang kan. yah, aku menanti pagi."
dia bodoh. katanya tidak akan menarik siapa pun ke dunianya. tapi dia menarik aku. aku tenggelam, gelap gelagapan sendiri.
"seperti itu kan, hidup? saling memanfaatkan. picik, tapi nyata."
"jangan jatuh, aku tidak akan menangkapmu."
dia terlambat. sejak awal aku tahu aku akan terhisap. hanya saja aku tidak bersiap. terlambat.
"kamu gak usah repot-repot menangkap aku, aku..."
"memang aku tidak peduli, jangan geer."
kamu peduli, makanya kamu memperingatkanku berkali-kali. dengarkan aku sampai akhir dong. aku jatuh pun tak apa. bisa melihatmu dari bawah, memandang sisi lainmu kan. "aku tidak jatuh. dunia berputar tahu."
"ada gravitasi. tanah itu tanah, langit ya langit."
kamu memang langit, langit malam yang tak kunjung siang. dan aku mengais-ngais di tanah.
dia memang jauh.